Minggu, 07 Oktober 2012

Cerpen - Sepotong Kata Maaf

Tags
Advertisement
Advertisement


Sepotong Kata Maaf
By : Sih Aulia Nur Fauziah

“Maaf Pak, saya kurang sepakat dengan jawaban anda.” Kata gadis itu percaya diri, kedua alisnya bertaut. Aku yakin gadis ini adalah seorang pemikir yang baik.
“Pernah tidak, anda meruntut mengapa sampai mahasiswa di kampus ini enggan menjadi pribadi yang mandiri, berintegritas atau berkarakter positif? Karena pada kenyataannya, sistem tidak pernah menunjukkan apresiasi terhadap karakter yang baik, mencontek ataupun tidak mencontek nilai tetap sama. Bagaimana karakter positif akan terbentuk jika sistem sendiri tidak mendukungnya.”
Aku hanya diam mengangguk, kagum dengan pemikiran gadis yang baru lulus SMA tiga bulan yang lalu itu. Sebelumnya aku menjawab pertanyaannya di forum kelas tentang berlaku tidaknya pendidikan karakter di perguruan tinggi, dan jawabanku adalah bahwa perguruan tinggi adalah ajang aplikasi karakter bentukan di SMA. Dan aku mulai membandingkan karakter mahasiswa kampus tempatku bekerja dengan kampus tetangga. Dan setelah kelas bubar ia melabrakku dengan sanggahannya itu, aku pun tersenyum dan berniat memberikan tanggapan atas pendapatnya namun tiba-tiba, “sekian, terimakasih Pak.” Ia pun berlalu. Tidak sopan? Benar, itulah cap yang langsung muncul di benakku saat itu.    

Seminggu kemudian, aku masuk ke kelas itu lagi. Aku melihat gadis itu di barisan kedua dari depan, ia tampak sibuk mempersiapkan catatan dan mulai mengenakan kacamatanya. Ah, ini dia kesempatan untuk menjawab gadis tidak tahu sopan santun itu.

“Baik saudara-saudara, saya awali pertemuan ini dengan sebuah tanggapan atas pernyataan yang sempat dilontarkan oleh salah satu kawan anda yang sepertinya tidak terlalu berminat dengan pendapat saya.” Sengaja kuarahkan pandanganku kepada gadis itu yang nampak duduk dengan seksama, tangannya menopang dagu seperti biasa. Kurasa itu adalah posisi konsentrasinya. Ekspresinya datar, mungkin ia tak menyadari bahwa aku sedang menyindirnya.

“Kuncinya adalah adanya perbedaan pandangan dari sistem, dalam hal ini universitas terutama dosen sebagai unsur penggerak sistem, dengan mahasiswa sebagai objeknya. Kematangan karakter siswa harus diuji dengan sistem di perguruan tinggi sebagai langkah awal untuk mencetak generasi yang siap hidup di masyarakat dengan sistem yang kompleks dan ‘keras’ bagi orang-orang berintegritas. Hal ini merupakan visi dari sistem.”Sekali lagi kuarahkan pandanganku padanya dengan sedikit menekan pada beberapa kalimat yang kuucapkan, lagi-lagi tak ada yang berubah dengan posisi dan ekspresinya, ia tetap menopang dagu sambil melihat ke arahku.

“Sedangkan mahasiswa beranggapan bahwa perguruan tinggi idealnya adalah tempat dengan iklim yang kondusif untuk mengembangkan karakter positif, dan begitulah adanya.” Aku rasa cukup bagiku untuk memberikan sedikit pelajaran kepada gadis tidak tahu sopan santun itu. Aku pun langsung mangalihkan pembelajaran ke pembahasan materi berikutnya.
Setelah kelas bubar, ia menghampiriku lagi. Tanpa basa basi ia langsung berkata, “Pak, saya rasa ada kesalahpahaman di antara kita. Seminggu yang lalu saya langsung pergi karena ada teman saya yang sedang menunggu jawaban bapak. Dan saya tidak punya pilihan lain selain pergi lebih dulu karena waktu itu juga adzan dzuhur telah berkumandang.” Ia tersenyum aneh, “tidak usah minta maaf Pak, saya sudah maafkan kok. Oiya, saya masih kurang sepakat dengan pandangan bapak barusan. Permisi.” Ia pun berlalu lagi, sedangkan aku hanya melongo tak percaya dengan apa yang terjadi.
Kuputar lagi memoriku ke minggu yang lalu, kuingat-ingat lagi detail kejadiannya. Ternyata gadis itu adalah mahasiswa kedua yang bertanya, sebelumnya ada seorang mahasiswa yang bertanya mengenai solusi permasalahan kepala sekolah di daerah asalnya, dan mahasiswa tersebut masih menunggu jawabanku saat gadis itu menyampaikan sanggahannya. Dan saat itu aku malah menanggapi sanggahannya dan mengabaikan pertanyaan mahasiswa yang bertanya pertama kali. Pantas saja ia pergi duluan.
Malu, itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Maaf, rasa gengsiku nampaknya terlalu besar untuk mengatakannya. Meskipun usiaku terpaut sekitar 7 tahun darinya, tapi tetap saja aku lebih tua dan secara profesional aku adalah dosennya (sebenarnya baru sebagai asisten dosen) dan ia adalah mahasiswaku. Hingga setelah habis ia mengontrak mata kuliahku bahkan 4 tahun setelahnya, yang kupastikan ia telah lulus, aku masih belum sempat meminta maaf padanya. Pengecut? Ya, itulah aku. Hal yang kutakutkan sebenarnya adalah kondisi psikologis gadis itu dalam mengungkapkan buah pikirannya, akankah ia trauma untuk berpikir kritis dan berani mengungkapkan pendapatnya di masyarakat nanti. Ini benar-benar menggangguku.
Namun, sebuah pertemuan di suatu tempat dengannya menyisakan penyesalan yang mendalam dalam hidupku. Kini, di depan pusaranya hatiku kebas dipenuhi oleh permohonan maaf yang tak akan pernah sempat ia dengar. Kucoba sampaikan kata maaf itu kepadanya melalui do’a-do’a yang kupanjatkan khusus untuknya. Semoga kata maaf itu benar-benar sampai padanya.


2 komentar

wah..
keren nih infonya, bermanfaat sekali.

#Salam sukses dari saya

@Yousake NKRIhihiihii ini cerpen bang bro bukan info, lain kali baca dulu yaaahh.. :P wkwkwkwkk

Komentar anda sangatlah berarti bagi kami, silahkan berkomentar dengan bijak dan sopan. Komentar dengan mencantumkan Link aktif akan kami hapus.
EmoticonEmoticon