Cerpen – Sepotong Kata Maaf

2
1

Sepotong Kata Maaf
By : Sih Aulia Nur Fauziah
“Maaf Pak, saya
kurang sepakat dengan jawaban anda.” Kata gadis itu percaya diri, kedua alisnya
bertaut. Aku yakin gadis ini adalah seorang pemikir yang baik.
“Pernah tidak, anda
meruntut mengapa sampai mahasiswa di kampus ini enggan menjadi pribadi yang
mandiri, berintegritas atau berkarakter positif? Karena pada kenyataannya,
sistem tidak pernah menunjukkan apresiasi terhadap karakter yang baik,
mencontek ataupun tidak mencontek nilai tetap sama. Bagaimana karakter positif
akan terbentuk jika sistem sendiri tidak mendukungnya.”
Aku
hanya diam mengangguk, kagum dengan pemikiran gadis yang baru lulus SMA tiga
bulan yang lalu itu. Sebelumnya aku menjawab pertanyaannya di forum kelas tentang
berlaku tidaknya pendidikan karakter di perguruan tinggi, dan jawabanku adalah
bahwa perguruan tinggi adalah ajang aplikasi karakter bentukan di SMA. Dan aku
mulai membandingkan karakter mahasiswa kampus tempatku bekerja dengan kampus
tetangga. Dan setelah kelas bubar ia melabrakku dengan sanggahannya itu, aku
pun tersenyum dan berniat memberikan tanggapan atas pendapatnya namun
tiba-tiba, “sekian, terimakasih Pak.” Ia pun berlalu. Tidak sopan? Benar,
itulah cap yang langsung muncul di benakku saat itu.    
Seminggu
kemudian, aku masuk ke kelas itu lagi. Aku melihat gadis itu di barisan kedua
dari depan, ia tampak sibuk mempersiapkan catatan dan mulai mengenakan
kacamatanya. Ah, ini dia kesempatan untuk menjawab gadis tidak tahu sopan
santun itu.
“Baik saudara-saudara,
saya awali pertemuan ini dengan sebuah tanggapan atas pernyataan yang sempat
dilontarkan oleh salah satu kawan anda yang sepertinya tidak terlalu berminat
dengan pendapat saya.” Sengaja kuarahkan pandanganku kepada gadis itu yang nampak
duduk dengan seksama, tangannya menopang dagu seperti biasa. Kurasa itu adalah
posisi konsentrasinya. Ekspresinya datar, mungkin ia tak menyadari bahwa aku
sedang menyindirnya.
“Kuncinya adalah adanya
perbedaan pandangan dari sistem, dalam hal ini universitas terutama dosen
sebagai unsur penggerak sistem, dengan mahasiswa sebagai objeknya. Kematangan
karakter siswa harus diuji dengan sistem di perguruan tinggi sebagai langkah
awal untuk mencetak generasi yang siap hidup di masyarakat dengan sistem yang
kompleks dan ‘keras’ bagi orang-orang berintegritas. Hal ini merupakan visi
dari sistem.”Sekali lagi kuarahkan pandanganku padanya dengan sedikit menekan
pada beberapa kalimat yang kuucapkan, lagi-lagi tak ada yang berubah dengan
posisi dan ekspresinya, ia tetap menopang dagu sambil melihat ke arahku.
“Sedangkan
mahasiswa beranggapan bahwa perguruan tinggi idealnya adalah tempat dengan
iklim yang kondusif untuk mengembangkan karakter positif, dan begitulah adanya.”
Aku rasa cukup bagiku untuk memberikan sedikit pelajaran kepada gadis tidak
tahu sopan santun itu. Aku pun langsung mangalihkan pembelajaran ke pembahasan
materi berikutnya.
Setelah
kelas bubar, ia menghampiriku lagi. Tanpa basa basi ia langsung berkata, “Pak,
saya rasa ada kesalahpahaman di antara kita. Seminggu yang lalu saya langsung
pergi karena ada teman saya yang sedang menunggu jawaban bapak. Dan saya tidak
punya pilihan lain selain pergi lebih dulu karena waktu itu juga adzan dzuhur
telah berkumandang.” Ia tersenyum aneh, “tidak usah minta maaf Pak, saya sudah
maafkan kok. Oiya, saya masih kurang sepakat dengan pandangan bapak barusan.
Permisi.” Ia pun berlalu lagi, sedangkan aku hanya melongo tak percaya dengan
apa yang terjadi.
Kuputar
lagi memoriku ke minggu yang lalu, kuingat-ingat lagi detail kejadiannya.
Ternyata gadis itu adalah mahasiswa kedua yang bertanya, sebelumnya ada seorang
mahasiswa yang bertanya mengenai solusi permasalahan kepala sekolah di daerah
asalnya, dan mahasiswa tersebut masih menunggu jawabanku saat gadis itu menyampaikan
sanggahannya. Dan saat itu aku malah menanggapi sanggahannya dan mengabaikan
pertanyaan mahasiswa yang bertanya pertama kali. Pantas saja ia pergi duluan.
Malu,
itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Maaf,
rasa gengsiku nampaknya terlalu besar untuk mengatakannya. Meskipun usiaku
terpaut sekitar 7 tahun darinya, tapi tetap saja aku lebih tua dan secara
profesional aku adalah dosennya (sebenarnya baru sebagai asisten dosen) dan ia
adalah mahasiswaku. Hingga setelah habis ia mengontrak mata kuliahku bahkan 4
tahun setelahnya, yang kupastikan ia telah lulus, aku masih belum sempat
meminta maaf padanya. Pengecut? Ya, itulah aku. Hal yang kutakutkan sebenarnya
adalah kondisi psikologis gadis itu dalam mengungkapkan buah pikirannya,
akankah ia trauma untuk berpikir kritis dan berani mengungkapkan pendapatnya di
masyarakat nanti. Ini benar-benar menggangguku.
Namun,
sebuah pertemuan di suatu tempat dengannya menyisakan penyesalan yang mendalam
dalam hidupku. Kini, di depan pusaranya hatiku kebas dipenuhi oleh permohonan
maaf yang tak akan pernah sempat ia dengar. Kucoba sampaikan kata maaf itu
kepadanya melalui do’a-do’a yang kupanjatkan khusus untuknya. Semoga kata maaf
itu benar-benar sampai padanya.
SHARE

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY