Dinamika Tanah

Advertisement
Dinamika Tanah
Dinamika Tanah - Anda mungkin mengira bahwa tanah itu suatu benda yang statis. Sesungguhnya angapan itu tidak benar. Memang kalau dilihat dari tidak bergeraknya tanah (kecuali tanah longsor), tanah itu seolah-olah statis. Tetapi cobalah Anda lihat apa yang terjadi didalam tubuh tanah itu.

Ilmu tanah (soil science) disebut juga pedologi. Ilmu Tanah yang mutakhir menggunakan konsep pedon. Pedon ialah suatu lajur tubuh tanah mulai dari permukaan tanah sampai batas bahan induk tanah.

Baca : Sumber Alam untuk Kegiatan Agraris

Tubuh tanah menurut konsep pedon adalah bagian dari lapisan permukaan lahan yang tipis yang beruba-ubah menurut skala waktu. Lapisan dinamik tanah terjadi karena adanya kegiatan proses fisika, kimia, biologi, serta grafitasi. Disebabkan oleh perbedaan-perbedaan bahan induk, bentuk wilayah, iklim, dan makhluk hidup dari suatu tempat ke tempat lain, maka proses pelapukan dan pembentukan tanah akan berbeda-beda. Akibatnya, penyebaran tanah juga berbeda-beda. Orang dapat membedakan warna tanah yang berada di satu tempat ke tempat lain. Warna tanah sesungguhnya adalah pantulan suatu proses yang sedang berjalan atau telah berlalu baik itu proses, fisika, kimia maupun biologi di dalam tanah. Proses-proses ini sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim yang berbeda-beda dari suatu tempat dengan tempat lain.

Tanah adalah suatu lapisan yang dinamis. Di dalam tanah terjadi berbagai proses baik fisika, kimia maupun biologi. Proses yang dinamis ini terjadi hanya pada lapisan pedon tadi. Proses ini berjalan tiada hentinya dari waktu ke waktu, sehingga bahan-bahan penyusun tanah berkembang dari satu fase ke fase berikutnya. Bahan alami yang berkembang menjadi tanah adalah bahan mineral dan bahan organik, sehingga setelah melewati proses yang panjang terbentukilah tanah mineral atau tanah organik.

Pada tanah mineral, lapisan pedon terdiri dari lapisan-lapisan yang disebut horison tanah, yaitu lapisan-lapisan yang memiliki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Sedangkan tanah organik, umumnya terdiri dari timbunan bahan organik yang tebal tetapi belum berkembang secara optimal karena keadaan lingkungan yang tidak memungkinkan terjadinya proses pengembangan bahan organik tadi menjadi bentuk lain yang lebih mudah untuk dimanfaatkan untuk keperluan pertumbuhan tanaman.

Lapisan-lapisan pada tanah mineral dibedakan menjadi horison-horison tertentu yang diberi simbol sebagai horison O, A, B, C, dan R. Horison O adalah lapisan bahan organik yang terdapat di atas permukaan tanah yang tebl tipisnya tergantung pada keadaan lingkungannya. Tanah-tanah yang tertutup oleh vegetasi yang lebat seperti dihuatn-hutan belantara memiliki lapisan O yang tebal, akan tetapi tanah-tanah yang secara intensif diusahakan (lahan usahatani) umumnya lapisan O-nya telah sangat tipis bahkan tidak ada sama sekali.

Horison A dan B adalah bagian yang kita kenal sebagai tanah, merupakan lapisan yang paling dinamis karena di lapisan ini proses-proses kimia, fisika dan biologi terjadi sangat intensif. Horison C adalah lapisan yang telah berkembang secara fisika dan kimia, akan tetapi belum menjadi tanah. Laipsan C berbeda dengan lapisan R yang ada di bawahnya yang merupakan batuan keras yang masih utuh. Oleh karena itu, horison C di sebut bahan induk tanah karena pada taraf perkembangan berikutnya akan menjadi tanah yaitu horison B.

Horison R adalah lapisan mineral atau batuan yang belum mengalamai perubahan karena belum mendapat pengaruh dari faktor iklim. Horison R disebut batuan induk (bedrock) karena masih berbentuk batuan yang masih utuh. Pada gambar 1.2 anda dapat melihat masing-masing horison pada tanah mineral.

Pada tanah organik, lapisan utama adalah bahan organik yang belum melapuk dengan sempurna yang tebalnya bisa terdiri dari beberapa sentimeter samapai belasan meter. Tanah organik umumnya terjadi di wilayah-wilayah yang selalu oleh genangan air seperti di muara-muara sungai yang besar, di tepi pantai sampai ke pedalaman, atau di tepi-tepi danau besar yang bervegetasi lebat.Tanah organik yang ada di Indonesia sangatlah luas (mencapai sekitar 27 juta hektar) yang hingga saat ini belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk keperluan usaha tani.

Pada tanah organik, lapisan utama adalah bahan organik yang belum melapuk dengan sempurna yang tebalnya bisa terdiri dari beberapa sentimeter samapai belasan meter. Tanah organik umumnya terjadi di wilayah-wilayah yang selalu oleh genangan air seperti di muara-muara sungai yang besar, di tepi pantai sampai ke pedalaman, atau di tepi-tepi danau besar yang bervegetasi lebat.Tanah organik yang ada di Indonesia sangatlah luas (mencapai sekitar 27 juta hektar) yang hingga saat ini belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk keperluan usaha tani.

[Cara Gampang] - Dinamika Tanah
Advertisement

Tidak ada komentar

Komentar anda sangatlah berarti bagi kami, silahkan berkomentar dengan bijak dan sopan. Komentar dengan mencantumkan Link aktif akan kami hapus.