Senin, 11 Agustus 2014

Tanah sebagai Sumber Alam untuk kegiatan Agraris

Advertisement
Advertisement

Tanah sebagai Sumber Alam untuk kegiatan Agraris - Manfaat tanah mulai dirasakan sejak manusia secara berangsur-angsur meningkat peradabannya. Dalam sejarah hubungan manusia dengan tanah dikenal tahap-tahap pemanfaatan tanah tersebut.

Baca Juga :
Tanah sebagai Sumber Alam untuk kegiatan Agraris
Pada masyarakat primitif pengumpul bahan makanan, tanah dianggapnya sebagai tempat untuk berkembang biak bagi tumbuh-tumbuhan dan hewan dimana manusia dapat berburu dan mengumpulkan bahan makanan untuk keperluannya sehari-hari. Sebagai masyarakat nomadik yang berpindah-pindah tempat (seperti misalnya bangsa Khirghiz di Asia Tengah), mereka selalu megikuti

Perpindahan musim dalam menggembalakan ternak. Pada saat itu, tanah yang tersedia memiliki nilai produktivitas yang sangat rendah karen tumbuh-tumbuhan yang hidup diatasnya belum mampu mendukung kebutuhan bahan makanan pokok bagi masyarakatnya.

Pada saat masyarakat nomadik berubah menjadi masyarakan menetap (sedenter), mereka menemukan bahwa berbagai jenis padi-padian yang menghasilkan bahan makanan sesungguhnya dapat ditumbuhkan pada tanah yang mereka tempati asal cukup tersedia air. Tercatat dalam sejarah bahwa 3000 tahun sebelum Masehi, bangsa Semit yang nomadik mulai menetap dan mengembangkan tanah pertanian disuatu wilayah yang disebut “ bulan sabit subur “ (thefertilecresent) yang terbentang mulai dari Palestina hingga lembah Euphrat dan Tigris di teluk Persia. Sebelum itu, kira-kira 4000 tahun sebelum Masehi, bangsa Mesir telah pula mengembangkan pertenian dan sistem irigasi disepanjang sungai Nil. Menurut Robinson (dalam Rafi’I 1984), masyarakat Mesir kuno telah melaksanakan penimbangan air dari sungai Nil untuk mengairi tanah yang terletak lebih tinggi dari permukaan air sungai tersebut. Pada jaman itu, pemupukan tanaman belum dikenal. Upaya pemupukan dengan menggunakan kotoran hewan mulai dilaksanakan oleh masyarakat kawasan Asia yang beriklim basah. Pemupukan dengan bahan organik dilaksnakan selama berabad-abad di Asia dan Eropa samapai awal abad XX, yang kemudian dipergiat lagi dengan ditemukanya pupuk kimia hasil industri. Hasil pemupukan tradisional yang intensif ditulis oleh F.H. King pada tahun 1911 dalam bukunya Farmers of Fourty centuries, yang merupakan hasil kunjunganya ke Cina pada tahun 1910. dari hasil kunjungan itu, King memperoleh data behwa tanah garapan yang luasnya sekitar 260 hektar (640 acres) dapat mendukung dan memenuhi kebutuhan hidup 1783 orang dengan 212 ekor ternak sapi dan keledai serta 399 ekor babi.

Pengolahan tanah dengan sistem pesawahan berkembang setelah adanya sistem irigasi. Sistem ini berkembang tidak hanya di Asia, tetapi juga di Amerika dan Australia. Di Indonesia, irigasi dengan sistem subak telah dikenal di Bali. Di lereng-lereng pegunungan yang memungkinkan diadakanya sistem irigasi dengan teknologi pengawetan tanah secara terasering.yang berkembang hampir diseluruh wilayah Nusantara.

Walaupun demikian, pengolahan tanah di beberapa wilyah di Indonesia masih berlangsung secar perladangan berpindah ( shifting cultivation). Sitem perladangan berpindah menggunakan tanah secara boros, dimana untuk memenuhi kebutuhan hidup per orang per tahun dibuthkan tanah seluas 20 hektar.

Dewasa ini tanah telah menjadi benda alam yang bernilai ekonomi sangat tinggi. Tanah telah merupakan pula faktor produksi yang penting, yang dengan penggunaan teknologi maju mampu menghasilkan berbagai bahan makanan dan industri, serta menjadi benda ekonomi yang sangat penting.

Komentar anda sangatlah berarti bagi kami, silahkan berkomentar dengan bijak dan sopan. Komentar dengan mencantumkan Link aktif akan kami hapus.
EmoticonEmoticon