Anak Disleksia Bukan Anak dengan IQ Jongkok

Advertisement
Anak Disleksia, Bukan Anak IQ Jongkok ~ Jangan khawatir memiliki anak dengan disleksia, individu dengan disleksia biasanya kesulitan dalam menghafal atau mengasosiasikan suatu hal dengan hal lain. sehingga tidak sedikit orang yang mengartikan bahwa mereka adalah anak-anak yang "bodoh" atau bebal. yang sebenarnya terjadi adalah, mereka memiliki cara yang berbeda dalam memahami sesuatu. contohnya, dalam belajar mereka memiliki gaya belajar yang berbeda dari kebanyakan orang. Sehingga sering terlihat tidak berkonsentrasi.

thumbnail postingan
Gejala disleksia pada anak umunya bisa dilihat sejak anak memasuki masa "golden age" yaitu sekitar 1-3 tahun dan berlanjut hingga masa kanak-kanak. Ditandai dengan perilaku anak yang cenderung hiperaktif namun lemah dalam kemampuan komunikasi verbal serta pemahaman.

Bagi anak yang sudah sekolah, gejala yang terlihat adalah mereka melihat huruf atau angka dengan posisi yang berbeda dari yang tertulis, saat menulis ada huruf yang tertinggal, atau menuliskan kata dengan urutan huruf yang salah.

Beberapa pengidap disleksia juga kesulitan memehami atau menangkap apa yang dikatakan orang kepadanya. Ada juga kondisi pengidap memiliki masalah dalam koordinasi dan disorientasi, yang membuatnya canggung dalam bergerak.

Mereka dengan disleksia terkadang membuat orang-orang disekitarnya merasa terganggu. kehadiran mereka tidak jarang mengalami penolakan. Hal inilah yang menyebabkan mereka menerima stigma negatif dari orang lain, seperti bodoh. padahal tidak sama sekali.

Pengidap disleksia memiliki intellegence quotient (IQ) rata-rata seperti kebanyakan anak-anak, bahkan sering ditemui mereka memiliki IQ diataas rata-rata. hanya mereka mengalami masalah dalam pemrosessan di dalam otaknya.

Sejarah sudah membuktikan, seniman pencipta hasil karya legendaris dunia, lukisan Monalisa, yaitu Leonardo da Vinci adalah seorang yang mengidap disleksia. ada juga Albert Einstein yang sering gagal untuk mengingat hal-hal sederhana dan tak bisa mengikat tali sepatunya sendiri. juga mengidap disleksia. Namun tidak menghalangi kesuksesan dari penemu teori relativitas itu. Di indonesia, kita mengenal Dedi Corbuzier yang pernah mengidap disleksia sewaktu masa kanak-kanak. namun tidak menhalangi kesuksesannya sebagai ilusionis nomor wahid di Indonesia.

Masih banyak orang tua yang belum sadar dengan kondisi disleksia. mereka masih malu karena anaknya mengalami kondisi berbeda dari anak-anak lainnya. padahal sudah banyak individu dengan disleksia yang berhasil menggapai kesuksesan yang luar biasa.

Tentunya keberhasilan anak dengan disleksia tersebut memerlukan dukungan dan motivasi dari keluarga, orang-orang disekitar dan juga lingkungan, yang membantu mereka mengatasi kesulitan yang dialaminya. dan yang penting adalah penerimaan dan keterbukaan dari lingkungan di sekitar mereka, hal tersebut akan sangat membantu.

Baca Juga :
  1. Makanan Sehat untuk Kulit
  2. Obesitas Menyebabkan Hipertensi
  3. Menjadikan Bibir Seksi
Advertisement