Sabtu, 21 November 2015

Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT BO)

Advertisement
Advertisement

thumbnail postingan
Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT BO) adalah sistem produksi tanaman padi yang menitegrasikan kemampuan biologi tanah, tanaman, pupuk (pupuk organik, pupuk hayati dan pupuk anorganik) dan pengolaan air untuk mencapai target utama yang akan di capai. Target utama yang dimaksud adalah untuk mencapai dan mempertahankan produktivitas padi yang tinggi, mempromosikan dan meningkatkan kesehatan agroekosisten (kualitas dan kesehatan tanah) termasuk keanekaragaman hayati, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Oleh karena itu , memaksimalkan input lokal, terutama pupuk organik (kompos jerami, kotoran sapi, dll) dan pupuk hayati menjadi prioritas utama untuk pengembangan tanaman padi. Konsep dasar atau pilar penting IPAT-BO antara lain:
  • Perubahan ekosistem padi
Secara tradisional ekosistem padi di tandai dengan adanya genangan permanen. Akibatnya semua organisme aerobik tidak bisa hidup dalam tanah karena deplesi oksigen yang diperlukan untuk respirasi. Deplesi oksigen menyebabkan kondisi tanah anaerob dan memberikan efek negatif pada aktivitas akar dan dan organisme menguntungkan di dalam tanah. Dengan mengubah ekosistem padi padi dari anaerobik (tergenang) dengan kondisi aerobik menghadilkan perubahan yang signifikan di dalam tanah , terutama pada aktivitas biologi dan pertumbuhan akar . tanah lembab dan kondisi berlumpur menyediakan oksigen untuk respirasi organisme tanah. Dalam kondisi yang aerobik, tanah mengandung nutrisi makro maupun mikro dan zat zat yang penting bagi pertumbuhan. Sementara pada tanah yang aerobik tidak ada aktivitas mikroba di dalamnya.
  • Tanah Sebagai pabrik pupuk hayati alami
Ekosistem padi yang aerob dengan kondisi berlumpur adalah sebuah sistem yang sangat komplek, di tandai dengan adanya aktivitas biologi, kimia dan fisik yang mempengaruhi kehidupan di dalam tanah. Mikroorganisme yang berada di dalam tanah, bersama dengan enzim exocellular dan meso fauna serta makro fauna melakukan sebuah reaksi metabolisme. Satu hektar tanah sawah yang subur mengandung sekitar 1200 kg bakteri, 1200 kg Actinomycetes, 120 kg ganggang. 240 kg protozoa, 51 kg nematoda, 120 kg serangga, dan 1200 kg cacing. Semua organisme ini dari bakteri kecil hingga besar cacing tanah dan serangga akan makan, tumbuh dan berinteraksi dalam ekosistem tanah untuk membentuk jaring makanan yang mempengaruhi ekosistem tanah sawah secara signifikan. Oleh karena itu di bawah aerobik dengan kondisi berlumpur, tanah sawah adalah hidup dan bertindak sebagai pupuk alami pabrik atau pupuk hayati tanaman. Kontribusi dari organisme tanah yang bermanfaat bagi ketersediaan hara baik diketahui. The pemecah masalah nitrogen nonsymbiotic dapat berkontribusi hingga 50-100 kg N per hektar, fosfat melarutkan mikroba dapat meningkatkan ketersediaan P hingga 50%.
  • Kekuatan biologis padi
pupuk hayati tanaman. Kontribusi dari organisme tanah yang bermanfaat bagi ketersediaan hara baik diketahui. The pemecah masalah nitrogen nonsymbiotic dapat berkontribusi hingga 50-100 kg N per hektar, fosfat melarutkan mikroba dapat meningkatkan ketersediaan P hingga 50%.
  • Management Nutrisi
Adapun rekomendasi pemupukan pada sistem tanam  adalah sebagai berikut:
  1. penggabungan jerami padi atau kompos jerami dilakukan selama tanah dalam masa persiapan.
  2. satu hari sebelum tanam di aplikasikan sekitar 50 kg urea, 25 kg KCL dan 50 kg SP 36 (sebagai alternatif adalah 50 kg urea dan 100 kg NPK) yang diberikan ke dalam tanah,
  3. aplikasi 50-100 kg urea dilakukan pada 18 - 21 hari setelah tanam atau setelah penyiangan pertama (bagan warna daun dapat digunakan sebagai indikator untuk menentukan tingkat nitrogen),
  4. 50-100 kg urea dan 25 - 50 kg KCl atau 50 kg urea dan 100 - 150 kg NPK (16:16:16) diaplikasikan 35-38 hari setelah tanam. Selain itu, diperkaya
  5. pupuk cair organik atau multinutrition disemprotkan ke tanaman pada 15, 15, 25, 35, 45 dan 55 hari setelah tanam.
demikianlah penjelasan tentang IPAT BO , semoga bermanfaat.
Sumber : Simamarta, Tualar.dkk.2011. Management of Water Saving and Organic Based Fertilizers Technology For Remediation and Maintining the Healt of Suistainability of Rice Productivity in Indonesia. Jatinangor: Universitas Padjadjaran.