Gaya Bahasa dalam Puisi

Advertisement
thumbnail postingan
Gaya bahasa dalam puisi menjadi salah satu unsur yang perlu diperhatikan karena dapat berpengaruh pada keindahan dan kualitas puisi yang dihasilkan. Majas dapat membuat puisi lebih hidup dan lebih imajinatif sehingga mampu membawa pembaca merasakan hal yang dirasakan oleh sang penyair. Gaya bahasa atau majas memberikan warna emosi baru pada pembaca atau pendengar puisi. Gaya bahasa dalam sastra indonesia memang banyak, namun tidak selamanya semua gaya bahasa itu cocok untuk puisi. sebelum mengetahui majas yang ada dalam puisi, sebaiknya memahami terlebih dahulu mengenai pengertian dan unsur puisi. Berikut beberapa gaya bahasa yang biasa digunakan dalam puisi:
  • Personifikasi
Majas atau gaya bahasa personifikasi adalah memposisikan suatu benda mati bertingkah lak seperti manusia. Contohnya saja “Rembulan yang pulas tertidur di pucuk malam” “Angin yang membelai mesra”. Kata “pulas tertidur” atau “angin yang membelai mesra” merupakan contoh majas personifikasi. Karena biasanya yang bisa pulas tertidur adalah mahluk hidup (salah satunya manusia) bukan rembulan. Dan yang biasa membelai mesra adalah manusia bukan angin.
  • Metafora
Metafora yaitu majas yang membuat benda memiliki sifat yang berbeda dari sifat aslinya. Contohnya pada kalimat “ Batang Usiaku sudah tinggi” kata tinggi biasanya tidak disematkan pada benda seperti pohon yang tinggi, batang kayu yang tinggi dan sebagainya. Sedangkan sifat yang dimiliki usia biasanya menggunakan istilah “usia yang semakin menua” namun dalam majas metafora ini, sifat asli usia diganti menjadi kata “tinggi” yang buka sifatnya yang biasa.

Baca juga artikel : Panduan Membuat Diksi yang Baik dan Benar
  • Hiperbola
Hiperbola adalah gaya bahasa tau majas yang menggunakan bahasa yang berlebihan, tujuannya untuk memperhebat maksud dan meningkatkan kesan para pembaca. Contohnya saja “Pekikannya membelah langit” pada kenyataannya tidak ada pekikan (teriakan) manusia yang karena kerasnya bisa sampai membelah langit. Namun majas hiperbola ini melebih lebihkan pernyataannya untuk memperhebat maksud.
  • Litotes
Kebalikan dari litotes, majas ini berarti mengecilkan atau merendahkan makna yang sebenarnya. Contohnya saja pada kalimat “Dalam gubuk renta tepian danau” penyair menggunakan kata “Gubuk renta” padahal kenyataan aslinya bangunan ditepi danau itu adalah istana megah, namun penulis merendahkan maknanya menjadi “gubuk renta”.

Baca Juga : Cara Mempersiapkan Penerbitan Puisi

Sebenarnya masih banyak gaya bahasa atau majas yang bisa digunakan dalam puisi, namun gaya bahasa di ataslah yang biasanya paling sering digunakan dalam puisi. Demikian beberapa contoh gaya bahasa dalam puisi, semoga bermanfaat.
Advertisement